Portal Berita Akurat dan Inspiratif - Mengedukasi Nusantara

Danrem 162/WB Minta Awak Media NTB Sejukkan Suasana Pilkada

Suaranusa.com, Mataram- Komandan Korem (Danrem)162 Wira Bhakti (162/WB), Kolonel infanteri H. Farid Makruf meminta kepada awak media yang ada Nusa Tenggara barat (NTB) untuk menjaga netralitas saat bertugas menjelaang Pilkada.

Hal itu dingkapkan Danrem saat menggelar acara coffe morning Korem 162 WB dengan Wartawan.

“Sikap wartawan sebaiknya saat berdinas itu netral. Tulis sesuai fakta, jangan ada fanatisme buta,” ujar Kol Farid Makrud, di Mataram, Senin (22/1/2018).

Farid menjelaskan, peran media menjelaang ajang kontestasi politik saat ini sangat penting. Terutama untuk meminimalisir sekaligus melawan serangan berita hoax yang muncul di media sosial.

Yang mana informasi atau berita Hoax itu merupakan sumber masalah yang berimbas ke masyarakat. Karena itu, Farid meminta agar awak media tetap berada di jalurnya yaitu menyampaikan fakta dan menjaga netralitas dalam tulisan agar suasana Pilkada bisa sejuk, aman dan damai.

“Jangan sampai wartawan mengompori dengan berita berita miring, wartawan harus mengedepankan kode etik selama bertugas. Wartawan harus menjadi penyejuk suasana agar tidak menimbulkan konflik akibat pemberitaan,” kata Farid.

Sementara itu, ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sukisman Azmi mengatakan wartawan harus menjaga independesi dengan memuat berita yang berimbang (cover both side) khusunya untuk menjegal pengaruh hoax yang bermunculan di Medsos.

Apalagi, saat ini untuk membedakan informasi hoax dan berita asli itu sangat sulit jika dilihat dari teknik penulisan. Karena itulah, netralitas wartawan sangat diperlukan.

“Berita hoax juga menggunakan teknik 5 W 1H, jadi wartawan harus benar benar berbeda dengan para penyampai hoax tersebut,” kata Sukisman

Namun, kata dia, banyak yang mengira media saat ini mengikuti arus atau terkesan mendukung salah satu pasangan calon dengan pemberitaan. Padahal media adalah industri yang pemasukannya karena Iklan.

Jadi, dia berharap, masyarakat harus mengerti bagaimana sebenarnaya bisnis media atau istilah- istilah dalam pemberitaan seperti Advertorial.

“Advertorial atau itu dibuat bukan karena mendukung pasangan tertentu. Itu adalah bisnis media. Dan yang beriklan itu membayar media itu,” kata Sukisman.

(SN-01)

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.