Memandang Pemilu Lebih Baik Lewat “Kacamata” Lalu Aksar Ansori

Suaranusa.com, Mataram- Pemilihan Umum (Pemilu) merupakan sebuah proses memilih orang untuk mengisi jabatan politik tertentu.

Jabatan politik tersebut beraneka ragam diantara adalah Presiden, Wakil Rakyat, Gubernur, Bupati/ Walikota, Camat, Kepala Desa, hingga pemilihan Kepala Dusun.

Lantas, bagaimana sebaiknya kita menyikapi pemilu agar ajang demokrasi tersebut menjadi sangat bermanfaat dan penuh dengan kenyamanan?

Yuk kita simak oret oretan ketua KPUD NTB, Lalu Aksar Anshori tetang kiat pemilu. Semoga oret oretan tersebut dapat memberikan manfaat bagi para pembaca khususnya para Suaranusa Lovers.

“Pagi jum’at berkah ini tiba2 saya ingin menawarkan ide untuk teman-temanku semua. Kita ingin menjadikan Pemilu dan Pilkada sebagai sesuatu yang menarik, menyenangkan, riang gembira, rekreatif, pro rakyat dengan nilai2 religi, ekonomi dan budaya serta fungsi2 relasi sosial dengan keramahan dan keakraban.

Dijauhkan dari konflik, isu-isu SARA, transaksional dalam bentuk money politics, ketegangan-ketegangan, kerenggangan satu sama lain, saling curiga dan benci serta pertemuan-pertemuan dengan muka masam dan provokasi.

Caranya adalah:

  1. Menjadikan penyelenggara dan stakeholder sebagai mitra dan pelayan bagi semua.

Penyelenggara dan stakeholder adalah teman dan mitra, posisinya tidak berhadap2an dengan peserta dan pemilih. Mereka adalah pihak yang netral, sehingga berkewajiban memberikan pelayanan dengan penuh senyuman dan keakraban serta memberikan edukasi yang memiliki nilai kebajikan dan pencerahan. Didalamnya ada KPU dan Bawaslu serta jajarannya, pemerintah, polisi, ASN, media massa, LSM, perguruan tinggi dll. 

Semuanya sebaiknya berperan pelayanan dg tugasnya masing2 dapat dijalankan secara baik dan aktif. Jadi akan indah kalau semua berperan sebagaimana mestinya.

  1. Menjadikan tempat-tempat pelayanan sebagai wisata pendidikan.

Dalam pelayanan tentunya ada edukasi-edukasi yang membuat masyarakat bertambah pengetahuan dan keterampilannya. Akan semakin baik dalam mendapatkan hak-haknya dan akan semakin cerdas sehingga akan semakin jauh dari perilaku yang membiarkan praktek transaksional dan provokatif.

Pusat-pusat pelayanan menyajikan data dan informasi secara menyenangkan baik audiovisual, taman bermain dan ruang terbuka di pusat pelayanan dan di tempat- tempat publik.

  1. Melaksanakan tahapan dengan aturan-aturan hukum yang tegak lurus disertai kreasi muatan agama dan budaya.

Pelaksanaan norma-norma hukum perlu didukung juga dengan tausiyah agama dan adat budaya yang disampaikan melalui sekolah-sekolah, balai pertemuan, rumah ibadah dan bahkan dalam perhelatan agama dan budaya seperti maulid, pengajian umum, pertunjukan wayang, drama dan tari, tembang-tembang merdu, dll. 

  1. Melaksanakan kerja-kerja tahapan sebagai perjalanan wisata bagi penyelenggara, peserta dan pemilih sebagai sebuah perjalanan wisata yang menyenangkan.

Para calon dan tim sukses yang berkeliling kampung menyusuri sungai, setapak, pantai, sawah, hutan dan pepohonan dengan berjalan kaki, bersepeda, mengendarai kuda, mendayung sampan bahkan mungkin mengangkat celana hingga paha krn melalui genangan air dan juga mungkin ditandu.

Dan dlm perjalanan itu nampak akrab berdialog dan berdiskusi dg petani, nelayan, buruh, pedagang, dan sebagainya. Apalagi, kegiatan berkeliling ini ditampilkan di media sosial, di koran, di layar-layar video dan televise. Bukankah sangat indah dan menyejukkan?

Begitu juga dengan penyelenggara yang sedang melakukan pencocokan dan penelitian (coklit) pemilih, yang sedang melakukan verifikasi dan yang mengantar undangan untuk bertemu dengan masyarakat di berugak, di sawah, di kandang sapi, di pos-pos ronda, di lapangan sepak bola atau mungkin di sebuah acara budaya dan agama.

Sungguh sebuah gambar dengan sajian indah. Diceritakan dan ditayangkan tetap saja menjadi menarik seperti perjalanan wisata.

Daripada memasang baliho di pohon-pohon atau di taman kota sangat tidak menarik dan tidak ekologis. Daripada gambar-gambar calon di baju kaos di kerumunan menampakkan acungan tangan dan muka melotot, sangat tidak rekreatif. 

  1. Menjadikan pusat-pusat keramaian sebagai kegiaatan ekonomi seperti di tempat kampanye, di TPS, di percetakan, di posko-posko calon.
    Saat pemungutan dan penghitungan suara di TPS seluruh masyarakat tumpah ruang dg fashion terbaik menggunakan hak pilih, mengikuti seluruh proses dan memantau penyelenggara dan peserta.

Saat yang sama di TPS tersebut berbaris rapi penjual sembako, cendol, kamilan, nasi bungkus dan pak bas juga. Malah kalau penjual gule gending menjual gula2-gula sambil menari dan memainkan gendingnya pastilah akan meriah. Inaq-inaq (ibu-ibu) sy yakin tidak malu untuk menari mesti sudah uzur. Juga KPPSnya berbusana adat atau berbusana seperti orang mau naik haji, sedap dipandangnya.

Intinya, mari kita selalu mengekspresikan diri agar pemilu dan pilkada menampakkan penyelenggara, calon dan pendukungnya serta masyarakat pemilih  selalu dalam suasana hati yang sejuk dan lapang, menampakkan diri riang gembira serta membuat semua medan dan prosesnya sebagai wisata politik”

Comments
Loading...