Mau Menang di Pilkada NTB Keempat Cagub Harus Perhatikan Hal Ini

Suaranusa.com Sumbawa Besar—Dr. Lahmuddin Zuhri, SH., M.Hum, yang merupakan Dekan Fakultas Hukum Universitas Samawa (UNSA) yang juga Direktur Pusat Studi Hukum dan Hak Azasi Manusia UNSA, memberikan masukan penting bagi para calon Gubernur NTB pada Pilkada NTB 27 Juni 2018 mendatang.

Dr. Lahmuddin Zuhri, SH.,M.Hum., memandang bahwa keempat pasangan calon yang kini berkampanye untuk merebut hati masyarakat dan memenangkan pesta demokrasi di NTB 27 Juni 2018 mendatang adalah sama-sama baik.

Namun dia menggarisbawahi bahwa keempat calon Gubernur (Suhaili FT, Ahyar Abduh, Zulkieflimansyah dan Ali BD) harus memperhatikan mayoritas pemeluk agama penduduk di NTB yang mayoritas nasionalis agamais.

Artinya ungkap dia, bahwa pasangan calon harus benar-benar memahami nilai-nilai islam. Harus bisa berbaur dengan umat islam di NTB terutama massa NW, NU dan Muhammadiyah yang cukup besar di NTB. Juga harus bisa menggaet dan menyatukan seluruh suku bangsa di NTB yakni Sasak, Samawa, Mbojo, Bugis/Makassar, Jawa dan Bali yang juga kuat di NTB. Maka simpul-simpul kedaerahan yang menyatu dalam bingkai Nasionalisme yang disatukan oleh para calon menjadi penting.

Sejauh ini menurutnya, belum ada tokoh yang kuat dalam membangun dalam konteks keagamaan di keempat calon. Belum ada yang bisa mewakili keterwakilan identitas islam. Wakil NU, wakil NW dan wakil Muhammadiyah atau yang lain saya melihat tidak ada di ke empat calon Gubernurnya.

Artinya tegas Lahmuddin, masih ada hal-hal tertentu yang bisa dikritisi bahkan bertolak belakang dengan nilai-nilai islami. Masyarakat bisa melihat siapa tokoh tertentu. Misalnya agama islam mengajarkan hal yang ‘seperti ini’ tapi si calon bertolak belakangan dengan hal tersebut. Ada beberapa tokoh yang bisa dilihat publik.

Karena sebut Lamuddin, berpolitik ala islam menjadi penting karena dalam berpolitik umat islam yakni penting membebaskan diri dalam hegemoni perseorangan. Otoritarian harus benar-benar dihapuskan. Juga penghambaan manusia terhadap manusia juga harus dihapus dalam islam. Lalu menyekutukan Allah juga dihapus dalam perpolitikan islam.

Kemudian lanjut Dekan FH UNSA tersebut bahwa islam anti terhadap riba dan politik islam mengajarkan bagaimana ekonomi, politik dan sosial budayanya.

“Keempat calon itu saya belum melihat ada yang cocok menjadi panutan masyarakat di NTB baik itu NW, NU, Muhammadiyah, Persis atau pun Salafi yang mulai kental di NTB. Artinya figur-figur yang ditunggu adalah yang bisa mewakili umat islam dan kebhinekaan yang ada di NTB,” imbuhnya lagi.

Lahmuddin mengatakan bahwa, sejauh ini belum juga ada kriteria yang mendekati kajian politik islam di antara keempat calon Gubernur tersebut. Sebab berdasarkan track record masing-masing dapat dinilai masyarakat.

Karena dalam hal ini, dia mengajak masyarakat harus melihat para calon secara personal dan latar belakang partai pengusungnya. Partai yang mengusung harus benar-benar mengusung nilai islam dan figur yang diusung juga harus benar-benar memperjuangkan kepentingan umat islam, kepentingan kebhinekaan dan kepentingan NKRI.

“Kita melihat di Indonesia hari ini yang benar-benar mengusung perpolitikan identitas keislaman ya semua partai yang menggunakan identitas keislaman. Tapi apakah semua partai tersebut mengusung ideologi keislaman, saya tidak melihatnya,” sebutnya lagi.

Lahmuddin berpesan kepada keempat pasangan calon agar menjaga kondusifitas di NTB karena bagaimanapun politik tetap menimbulkan riak-riak kecil dan besar di masyarakat. Netralitas aparatur negara menjadi penting. Kondusifitas daerah harus dijaga. Masyarakat bisa memilih bukan karena emosional keagamaan maupun kedaerahan tapi karena ideologi kebangsaan dan keagamaan. (SN-02)

 

 

 

 

Comments
Loading...