Wakapolres Bima Ancam Pidanakan Redaksi Kompas.com

Suaranusa.com, Bima—Buntut salah pemberitaan di media online kompas.com dan merembet ke media online lainnya, Wakapolres Bima Kota, Kompol Yusuf Tauziri, S.Ik., menyampaikan hak jawab dan hak koreksinya kepada Redaksi Media Nasional, Kompas, perihal pemberitaan kompas.com tanggal 5 April 2018 oleh Wartawan Mei Leandha dengan judul “Tembak Mati Adik Ipar, Kompol Fahrizal Terancam Hukuman Mati”

Yusta, akrap dia disapa, Jum’at (13/04/2018) mengutip isi surat yang dilayangkannya kepada redaksi media dimaksud bahwa dalam penjelasan berita disebutkan dalam alinea ke-1 ”Mantan Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polrestabes Medan yang saat ini menjabat Wakil Kepala Polres Bima Kompol. Fahrizal (41) menembak adik iparnya, Jumingan alias Iwan”.

Dia juga menyebut nama oknum Wartawan Mei Leandha mengulangi kesalahannya dalam mendistribusikan berita ke tribunnews dengan judul “Tembak Mati Iparnya, Wakapolres Bima Terancam Hukuman Mati”.

Kesalahan yang sama juga berlanjut dilakukan oleh media media online lainnya, yaitu oleh Serambi Indonesia, Banjarmasin Post,Tribun Pontianak, breakingnews, Hetanews dan lain-lain.

Dia mengungkapkan bahwa jabatan pelaku yang melakukan tindak pidana tersebut tidak menjabat sebagai Wakapolres Bima, dan perlu diketahui bahwa wilayah Bima terdapat dua administrasi pemerintahan dan dua wilayah hukum yaitu pemerintahan kota Bima dan Pemkab Bima serta Polres Bima Kota dan Polres Bima Kabupaten.

“Adapun pejabat Wakapolres Bima Kota adalah saya Kompol. Yusuf Tauziri,S.Ik dan yang menjabat Wakapolres Bima Kabupaten adalah rekan saya yang bernama Kompol. Abdi Mauluddin,S.sos.,” tegas Yusuf Tauziri.

Bahwa kata dia, baik Wakapolres Bima Kota maupun Wakapolres Bima Kabupaten tidak terlibat dan tidak ada kaitannya dengan yang diberitakan tersebut di atas.

“Perlu ditegaskan pula bahwa saya Wakapolres Bima Kota Kompol. Yusuf Tauziri,S.IK sepanjang perjalanan dinas sampai dengan saat ini tidak pernah mempunyai permasalahan pidana bahkan tidak pernah pula mempunyai permasalahan disipilin maupun kode etik,” ungkapnya.

“Selama perjalanan dinas saya. Saya berusaha untuk berbuat yang terbaik demi institusi Polri yang saya cintai. Hal ini saya buktikan dengan keberhasilan saya dalam menangani beberapa kasus menonjol diantaranya keberhasilan memproses tindak pidana Money Politik sampai ke tingkat pengadilan tinggi pada Pemilu 2014,” tambah Yusta.

Selain itu, Yusuf Tauziri juga berhasil memproses perusakan dan pembakaran 10 sepeda motor dinas milik Polres Sigi sampai pada putusan Pengadilan pada tahun 2014 dan beberapa kasus menonjol lainnya.

Dengan kesalahan pemberitaan yang dilakukan oleh Kompas.com dan diikuti oleh media-media Online lainnya jelas menimbulkan kerugian secara imateril bagi dirinya.

‘Karena kesalahan pemberitaan ini telah menyebar ke media-media online lainnya maka saya menuntut Kompas untuk mencabut, meralat, memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat,” ujar Yusta.

Dia juga meminta agar media online tesebut menyampaikan permintaan maaf kepada dirinya Kompol. Yusuf Tauziri,S.I.K. Hak Jawab dan Hak Koreksi ini harus diposting dalam Kompas.com selama 7 hari berturut-turut untuk mengcounter pemberitaan yang salah dan belum dikoreksi oleh media lainnya yang didistrubusikan oleh oknum wartawan Kompas maupun pengambilan berita dari Kompas oleh media online lainnya

Dia menambahkan, apabila Kompas.com tidak mematuhi prosedur penyelesaian kesalahan pemberitaan yang diamanatkan dalam Pasal 10 Peraturan Dewan Pers Nomor :6 /peraturan-DP/V/2008 tentang pengesahan surat keputusan Dewan Pers tentang Kode etik Jurnalistik sebagai peraturan Dewan Pers, maka dia tidak segan-segan akan menuntut Redaksi Kompas secara Pidana dan Perdata. (SN-02)

 

Comments
Loading...