Jadi TKW di Malaysia, Siti Hajar Diperlakukan Tidak Manusiawi

Suaranusa.com, Sumbawa Besar–Siti Hajar (41) seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Kabupaten Sumbawa mendapat perlakuan yang tidak manusiawi selama menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di negeri Jiran, Malaysia.

Sejak awal Siti Hajar memang proses pemberangkatan wanita berpendidikan tamatan SD tersebut sebenarnya sudah bermasalah. Misalnya pada formulir pendaftaran calon TKI, pendidikan Siti Hajar sampai SMP, namun pada faktanya Siti hajar tamatan SD

Pada saat menandatangani perjanjian kontrak kerja, Siti Hajar baru mengetahui bahwa akan dipekerjakan di majikan non-muslim. Siti Hajar baru mengetahui ketika sudah di penampungan.

“Siti hajar tidak diberikan waktu istirahat yang layak sesuai dengan perjanjian kontrak kerja. Siti Hajar tidak diberi hak untuk beribadah sesuai dengan keyakinannya dan Siti Hajar tidak diberikan hak untuk berkomunikasi dengan keluarga dikampung halaman,” ungkap Staf Penguatan Kelembagaan Solidaritas Perempuan (SP) Sumbawa, Khardiana, ketika mendampingi Siti Hajar setibanya di tanah air, Jum’at (11/05/2018)

Diana menambahkan bahwa pada tanggal 11 April 2018 keluarga melakukan mediasi pertama dengan pihak PT. Rizaldi Bina Bersama untuk menuntut pelanggaran hak yang dialami  oleh Siti Hajar. Hasil dari mediasi bahwa Siti Hajar akan diberikan hak untuk beribadah namun tidak boleh menggunakan mukenah warna putih dan diberikan hak untuk berkomunikasi dengan keluarga sebanyak 1 minggu sekali.

“Namun selama hampir 1 bulan setelah membangun perjanjian dalam mediasi antara pihak PT Rizaldi Bina Bersama dengan keluarga PBM, PT Rizaldi Bina Bersama tidak melaksanakan perjanjian tersebut, karena komunikasi yang dijanjikan seminggu sekali tidak diimplemtasikan,” bebernya.

Diana mengemukakan bahwa pada tanggal  07 Mei 2018 keluarga kembali melakukan kunjungan ke LTSP Kabupaten Sumbawa untuk meminta kepastian terkait proses penanganan kasus yang dilakukan oleh LTSP.

Direktur PT Rizaldi Bina Bersama yang bernama Nunu Meminta uang sejumlah Rp 7.000.000 sebagai tebusan untuk memulangkan Siti Hajar yang sebelumnya di Minta Rp. 15.000.000 kepada keluarga.

“Tanggal 07 Mei 2018 tepatnya jam 19:20 Siti Hajar Menghubungi keluarga dengan menggunakan Hp temannya yang bernama yati bahwa Siti Hajar sudah diberangkatkan ke Batam. Tanggal 08 Mei 2018 Siti Hajar kembali menghubungi suaminya bahwa dia sudah dipindahkan ke rumah keluarga Milik PT Rizaldi Bina Bersama yang bernama Diah,” papar Khardiana.

Dijelaskan bahwa pada yanggal 08 Mei 2018 Siti Hajar menginformasikan bahwa gaji selama 1 bulan lebih bekerja di rumah majikan tidak diberikan oleh pihak PT.

Tanggal 09 mei 2018, mediasi kedua di LTSP antara keluarga, pihak PT. Rizaldi Bina Bersama, solidaritas Perempuan Sumbawa dan BNP2TKI (LTSP).

“Mediasi ini bertujuan untuk menuntut agar siti Hajar segera dipulangkan ke Sumbawa dan pihak PT agar sepenuhnya bertanggung jawab atas biaya kepulangan hingga Sumbawa tanpa meminta keluarga untuk membiayai tiket kepulangan maupun ganti rugi sebesar Rp. 7.000.000 dari keluarga dan sisa gaji Siti hajar bisa diberikan,” tuturnya.

Hasil mediasi sebut Diana, pihak PT setuju untuk memulangkan Siti Hajar hingga Sumbawa biaya seluruhnya ditanggung oleh pihak PT. RBB dan sisa gaji yang ada ditangan PT akan diberikan ke Siti Hajar. Pada 10 mei 2018, Siti Hajar dipulangkan dari Batam menuju Lombok akan tetapi biaya kepulangan dari Lombok menuju Sumbawa tidak ditanggung PT melainkan orang tua Siti Hajar.

Jum’at (11/05/2018) Siti Hajar tiba di Sumbawa dan dijemput oleh Solidaritas perempuan Sumbawa bersama keluarga.

Tuntutan keluarga bersama SP Sumbawa tegas Khardiana, PT harus mengganti biaya kepulangan siti hajar dari Lombok menuju Sumbawa sesuai dengan janji pada saat mediasi. Klaim Asuransi Siti Hajar Gagal Penempatan. (SN-02)

Comments
Loading...