Tiga Tempat Angker ini Ada di Sekotong

suaranusa.com – Sungai Sengkunyit terletak di sebelah barat Dusun Telaga Lebur, Desa Sekotong Tengah, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Adalah Muhammad Rasid, satu dari pemuda peduli Desa Sekotong Tengah ini mengungkapkan pengalamannya menapaki jejak mitos Sungai Sengkunyit yang ceritanya pernah didengar sebelumnya dari para tetua warga Sekotong.

“Sungai yang bermuara di pesisir pantai Tanjung Batu ini menyimpan berbagai tempat yang layak untuk dikunjungi dan dikembangkan sebagai satu dari destinasi wisata baru yang ada di Sekotong Lombok Barat,” ungkap Rasid.

Tiga sekawan; Muhammad Rasid, Mardiansyah dan Rohiman mencoba menyusuri tempat-tempat yang terdapat di Sungai Sengkunyit. Konon dari cerita yang pernah mereka dengar, tempat itu terkenal memiliki kesan angker. Berikut pengalaman mereka bertiga mengunjungi lokasi Goa Kelelawar, Batu Gajah dan Batu Jaran yang ada di Sekotong.

Goa Kelelawar

Goa kelelawar ini terletak sekitar 1 km ke arah hulu sungai Sengkunyit. Lokasinya tersembunyi di antara tebing bukit. Jika diperhatikan dari jauh, tidak terlihat bahwa di sekitar daerah tersebut terdapat sebuah goa. Karena letaknya yang tersembunyi, konon menurut para tetua  Dusun Telaga Lebur, goa ini merupakan tempat persembunyian para gadis  di Dusun Telaga Lebur yang melarikan diri, karena takut diperkosa oleh tentara di masa pendudukan Jepang.

Suasana di sekeliling goa diliputi semak belukar, bebatuan cadas, udara lembab dan dingin. Ratusan kelelawar bergelantungan di langit-langit goa, sementara lantai  goa terlihat  bersih dan luas. Diperkirakan luasnya dapat menampung  5-10 orang.

Pintu masuk ke dalam goa terletak di sebelah selatan. Sementara melalui pintu goa lainnya yang berada tepat di puncak bukit, kita akan langsung menikmati indahnya pemandangan laut Pelabuhan Lembar dari puncak Goa Kelelawar.

Batu Gajah

Sekitar 30 meter dari Goa Kelelawar menuju ke hilir sungai sengkunyit. Di sini kita akan menyaksikan sebuah tebing batu yang cukup tinggi. Batu Gajah merupakan lokasi air terjun yang mengalir hanya pada musim penghujan. Dinamakan Batu Gajah oleh masyarakat sekitar karena jika diperhatikan bentuk batu tersebut mirip gajah yang sedang duduk, lengkap dengan kaki dan belalainya. Di atas tebing Batu Gajah terdapat pohon kamboja.

Konon pada zaman dahulu, Batu Gajah merupakan sebuah ”Pedewaq” yaitu tempat pemujaan penganut Islam Wetu Telu yang berkembang di Dusun Telaga Lebur. Penduduk Dusun Telaga Lebur, menurut para tetua, merupakan pendatang dari Bayan Kabupaten Lombok Utara; pusat tempat penganut Islam Wetu Telu Berkembang hingga sekarang.

Batu Jaran

Saat kita akan naik menuju bukit tempat Goa Kelelawar, terlebih dahulu kita akan melewati dan melihat sebuah batu yang mirip kuda dalam posisi sedang duduk.

Para penduduk setempat mempercayai bahwa Batu Jaran dahulunya dianggap angker. Menurut cerita warga, konon pernah ada kejadian seorang pendatang yang tiba-tiba tidak bisa berbicara atau dalam bahasa lokal setempat disebut ”Pakoq” setelah mencuci pakaian di atas batu tersebut. Menurut cerita juga sering terdengar suara ringkik kuda pada malam-malam tertentu.Tidak heran, di sekitar lokasi sering ditemukan dupa dan sesajen bekas orang bertapa meminta pesugihan dan ilmu kedigdayaan.

Semua kisah misteri tersebut kini hanya mungkin tinggal cerita dan perlahan dilupakan sejak berdirinya 2 pondok pesantren di Dusun Telaga Lebur, banyaknya para santri yang mondok dan sering menjadikan sungai sengkunyit sebagai lokasi pemandian. Kesan angker pun menjadi hilang.

Tiga objek wisata yang berada di sekitar Sungai Sengkunyit ini, yakni Goa Kelelawar, Batu Gajah dan Batu Jaran (Batu Kuda) layak dikembangkan sebagai objek destinasi wisata domestik. Terlebih dengan agenda Pemerintah Daerah Lombok Barat yang ingin menjadikan destinasi wilayah di Sekotong Mendunia. (SN01)

Comments
Loading...