Potret Keluarga Miskin di Balik Panorama Obyek Wisata Populer

SUARANUSA.COM – Sepasang suami istri, Keluarga Papuq Sodah (70) dengan suaminya Papuk Icok (76), yang tinggal di Dusun Geresak, Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, merupakan potret kemiskinan warga yang tinggal di kawasan wisata.

Sepasang keluarga jompo miskin ini tinggal digubuk Reot selama puluhan tahun, lahan tempat mereka membangun gubuk masih status numpang di lahan milik seorang investor asing asal Australia.

Pasangan Tua Rentaini  hidup mencari nafkah sehari-hari dengan hasil memulung. Penghasilan dari memulung tak mampu mememnuhi kebutuhan  mereka sehari-hari.

Ketika disambangi awak Suaranusa (19/7/2018) di gubuknya, pasangan suami istri jompo miskin ini sedang pergi memulung, namun mengetahui kedatangan media, tetanggapun buru-buru mencari suami istri yang biasa keliling memulung di sepanjang pantai Goa Landak yang ada di wilayah tempat tinggal pasangan jompo tersebut.

Gubuk tempat pasutri jompo ini tinggal berukuran 9×3 meter berlantai tanah, berbahan  kayu dan bambu dengan dinding ditambal koran bekas dan spanduk. Atap rumah yang terbuat dari asbes dan ranting daun kelapa yang disusun untuk sekedar menutupi. Di dalam gubuk itu, terdapat dua kamar, satu kamar tidur dan satu kamar untuk serambi. Di serambi gubuk tersebut, terdapat tempat tidur kecil berbahan bambu dengan kondisi acak-acakan. Di kamar lain, terdapat pula tempat tidur dari bambu. Tak terlihat barang berharga, hanya pakaian bergelantung dimana-mana.

Tak lama kemudian, Papuq Sodah dan suami pun datang. Papuq Sodah yang tak kuasa jalan, terlihat dipapah oleh anak perempuannya yang tiap hari mengurusnya. Kondisi Papuq Sodah yang sudah renta menyebabkan dirinya tak kuat lagi berjalan, namun ia melaksanan diri untuk keluar memulung hanya untuk bisa membeli beras untuk dimakan.

Papuq Sodah menuturkan, hampir beberapa tahun terakhir ia memulung plastik bekas yang dibuang para pengunjung di lokasi wisata setempat. Dari memukung ini, ia baru memperoleh hasil setelah 4-7 hari mengumpulkan plastik bekas. Hasil menjual plastik ini pun tak seberapa, ia hanya mendapatkan Rp 25 ribu dalam 4 kilogram, per kilogram dijual Rp 2.500. Ia dan suaminya tak punya pilihan lain, karena kondisi yang tua renta mengakibatkan ia tak kuat bekerja berat.

“Hasil memulung inilah kami pakai untuk beli beras 1 kilogram”tutur nenek tua yang mengalami gangguan pendengaran ini.

Ia mengaku, memiliki 6 anak namun 4 orang sudah meninggal tersisa dua anak laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki nya tak perduli terhadapnya, sehingga ia hanya bergantung dari anak perempuannya yang hanya sebagai buruh. Selama tinggal di gubuk reot itu, ia dan suaminya tak pernah diperhatikan oleh pemerintah. Ia tak mendapatkan BPJS, sehingga kalau sakit terpaksa mereka harus bayar. Ketika tak punya uang untuk berobat, ia terpaksa menahan sakit. Terlebih akhir-akhir ini ia dan suaminya kerap kali sakit-sakitan.

Papuq Sodah dan suaminya berharap agar pemerintah memperhatikan kondisinya terutama gubuknya. Harapannya, tak muluk-muluk,  Ia ingin gubuknya diperbaiki agar ia bisa menghabiskan sisa waktu tuanya tinggal digubuk layak. Hal senada harapan disampaikan anak perempuannya, Marisah. Ia berharap agar pemerintah memperhatikan kondisi orangnya. Termasuk dirinya yang kondisinya tak jauh beda dengan orang tuanya.

Sementara itu, Pejabat kades Sekotong Barat Andi Purnawan menyatakan pihaknya sudah memerintahkan stafnya ke gubuk Papuq Sodah. Pihaknya perlu menunggu hasil turun Sekdes untuk melakukan langkah-langkah.

“Sudah kami turun ke gubuk Papuq Sodah, nanti kalau memang gimana kita Ajukan, tidak bisa dadakan,” jelas Andi. Jika terlalu lama menunggu dibangunkan melalui bantuan pemda, pihaknya ingin mengupayakan melalui swadaya. Pemerintah desa akan berupaya mengumpulkan donasi. (SN04)

Comments
Loading...