Yuliana Jadi Jawara Pencak Silat Dunia, Ternyata Awalnya Sering Berkelahi

SUARANUSA.COM – Tak banyak yang tahu, awal mula kariernya sebagai atlet pencak silat yang berhasil menyabet dua gelar sekaligus sebagai Juara Dunia Pencak Silat Remaja Putri dan sebagai Atlet  Pencak Silat Remaja Putri Terbaik Dunia pada Junior World Pencak Silat Championship 2018 di Songkhla, Thailand.

Prestasi atlet pencak silat asal Dusun Terajon, Desa Montong Are, Kecamatan Kediri Lombok Barat ini begitu membanggakan. Meski telah banyak meraih piala dan medali emas pada even kejuaraan nasional, namun belakangan prestasinya sebagai atlet dunia pencak silat remaja putri ini mulai dilirik setelah beberapa media memberitakan prestasi juara dunia yang diraihnya pada akhir bulan April 2018 yang lalu.

Pada sisi lain, di balik kisah kesuksesannya yang masih berusia 17 tahun seperti sekarang ini , atlet pencak silat yang satu naungan binaan dengan pelari juara dunia, Lalu Muhaamd Zohri di PPLP NTB dan juga satu sekolah di SMAN 2 Mataram ini menceritakan awal mula dirinya terlibat di olahraga yang cukup berbahaya dan melibatkan ketahanan fisik yang kuat sebagai pemain pencak silat.

Kepada Suaranusa.com pada (22/7/2018) lalu, Yuliana yang akrab disapa Yuli ini bercerita tentang dirinya yang kerap menerima perlakuan negatif dari teman sekolahnya ketika masih duduk di sekolah dasar. Sebagai anak pertama dari latar belakang kehidupan keluarga sangat sederhana ini seringkali dibully atau perlakuan perundungan dari teman sekolahnya.

Merasa sering diejek secara kasar dibarengi dengan perlakuan fisik, Yuli pun sering mencoba bereaksi membela dirinya setiap kali disakiti. Namun karena kondisi fisiknya yang lemah dan postur tubuhnya yang kecil Yuli lebih banyak mengalah ketika berbenturan fisik dengan temannya. Yuli pun sringkali menyimpan perasaan dendam karena perlakuan perundungan yang dialaminya.

“Waktu saya sekolah SD dulu saya sering berkelahi sama teman sekolah saya.awalnya dari sana, karena dendam tidak mau diremehkan lagi dan untuk membela diri, makanya saya ikut pencak silat,” tutur Yuli.

Tak mau kisah pesakitan yang dialaminya ketika sekolah dasar terulang, sejak masuk kelas VII di SMPN 2 Kuripan, Yuli mendaftar diri pada kegiatan ekstrakurikuler perguruan pencak silat Merpati Putih. Ditempa dengan latihan fisik yang keras, tak lantas menyuburkan dendamnya kepada lawan berkelahinya ketika SD. Yuli mampu mengalihkan emosinya ke arah hal yang positif.

Prestasi puncaknya saat masih duduk di bangku SMP, Yuli berhasil menyabet medali emas pada Kejuaraan Nasional Pencak Silat Remaja tahun 2016 di Jakarta. Bukan hanya itu, di tahun yang sama (2016) pada Kejuaraan Nasional PPLP di Manado dan pada Pekan Olahraga Pelajar (Popwil) di jawa Timur, Yuli kembali meraih medali emas. (SN01)

Comments
Loading...