Cita-cita Eva Membumikan Al-Quran di Kesunyian Sekotong

SUARANUSA.COM, Lombok Barat – Namanya Eva Susilawati, dalam dalam kesehariannya akrab dipanggil Eva, seorang gadis desa di ujung barat selatan wilayah Lombok Barat bercita-cita menjadi ahli tafsir Al-Quran.

Eva adalah Anak ketiga dari keluarga sederhana, pasangan suami istri Marisah dan Mustiayu ini lahir di Loang Batu 02 Juni 1998 di Desa Sekotong Tengah, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat (Lobar). Sekolah dasar (SD) dilaluinya di SD Negerri 10 Sekotong Tengah. Setamatnya dari SDN 10 ia melanjutkan mondok di Ponpes Al –Muwahhidin, Desa Rumak, Kecamatan Kediri,  Lombok Barat.  Ponpes tempatnya mondok di bawah asuhan Tuan Guru Haji Musleh Kholil.

Pada tahun 2017 Eva meneyelesaikan pendidikannya di tingkat Madrasah Aliyah. Selama di Pondok Pesantren (Ponpes) Eva menyibukan diri dan fokus dengan menghafal Al-Qur’an. Berkat dukungan dari kedua orang tuanya Eva bertekad mengejar impiannya sebagai ahli dalamn ilmu tafsir Al-Quran.

“Siapapun anak saya yang mau sekolah dan punya cita-cita menjadi ahli Al- Qur’an akan saya dukung meski dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan,” pesan bapaknya kepada Eva.

Demi melanjutkan niatannya mempelajari Al-Quran, Eva sempat masuk melalui jalur seleksi nasional, tetapi gagal karena persyaratan yang kurang. Eva tak putus asa, ia kemudian mencoba masuk perguruan tinggi melalui jalur mandiri. Doa anak petani yang hidup sederhana ini diijabah, pada tahun 2018 ini ia pun lulus tes di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan konsentrasi jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

Rabu, (1/8/2018) ketika awak media menanyakan alasannya memilih jurusan tafsir Al-Quran, Eva pun mengatakan dengan jawaban sederhana, “Kelak saya akan mengamalkan ilmu yang saya dapat di kampung halaman kelahiran saya,” katanya.

Lebih lanjut Eva menhungkapkan cita-cita itu karena mengingat di dusun kelahirannya belum ada yang memperdalam ilmu Al-Qur’an, khususnya di bidang ilmu tafsir. Selain itu, keinginannya mempelajari  Al-Quran karena adanya dorongan yang besar dari kedua orangtuanya untuk tetap bersekolah, meskipun tidak didukung oleh kehidupan ekonomi keluarga yang cukup baik. Namun demikian, ia menganggap kedaan ekonomi keluarganya tidak akan menyurutkan cita-cita mulianya mempelajari ilmu Al-Quran.

“Bertawakkal kepada Allah itulah yang menjadi prinsip hidup yang saya yakini karena saya yakin Allah pasti membantu saya. Jelas dalam Al-Qur’an sudah ditentukan bahwa barang siapa yang bertawakkal, maka Allah akan membukakan jalan dari arah yang tidak kita sangka-sangka,” ungkapnya. (SN04)

Comments
Loading...