Retakan Tanah Usai Gempa Tak Ada Kaitannya Dengan Aktifitas Rinjani. Ini Penjelasannya

Suaranusa.com, Mataram- Gempabumi yang mengguncang pulau Lombok dengan M7.0  SR pada hari Minggu, 05 Agustus 2018, pukul 18:45:35 WIB, telah mengakibatkan kerusakan luar biasa dan berjatuhan korban jiwa di berbagai tempat terutama di Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur.

Padahal, kedua kawasan tersebut yang sebelumnya telah diguncang oleh gempa bumi dengan kekuatan M6,4 dan mengakibatkan banyak korban jiwa.

Akibat goncangan gempa bumi tersebut, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut setelah gempa 7.0, terjadi surface rupture (retakan tanah) dan Bahaya yaitu Pelulukan Tanah atau likuifaksi.

Menurut PVMBG, Fenomena pelulukan tanah tersebut tidak ada kaitannya dengan aktifitas gunung Rinjani.

“Fenomena likuifaksi yang terjadi di Pulau Lombok diakibatkan oleh gempa bumi dengan M7.0 dan tidak berkaitan secara langsung dengan aktivitas Gunung Rinjani,” kata Sri Hidayati,.

Sri Menjelaskan, Likuifaksi atau dalam bahasa bahasa inggrisnya Soil Liquefaction adalah suatu proses yang membuat tanah kehilangan kekuatannya dengan cepat dikarenakan getaran yang diakibatkan oleh gempa bumi kuat pada kondisi tanah berbutir halus dan jenuh air dan adanya zona lemah yang mengakibatkan muncul ke permukaan.

“Manifestasi di permukaan biasanya berupa lumpur pasir yang berbutir halus keluar dari retakan tanah. Kadang kadang sumur air hilang dan berganti pasir,” Kata Sri Hidayati..

Pernyataan tersebut sekaligus menjawab kesimpangsiuran di tengah masyarakat akan aktifitas gunung Rinjani yang terjadi karena adanya tanah yang retak dan mengeluarkan pasir. Sri menegaskan kembali, bahwa retakan tanah dan mengeluarkan pasir tersebut adalah Fenomenan Likuifaksi yang tak ada hubungannya dengan aktifitas Gunung Rinjani.

Karena itu, PVBMG mengimbau untuk sementara waktu, zona pelulukan tanah tersebut harus dihindari untuk bermukim. Bahkan, ke depannya jangan sampai ada bangunan di sekitar zona retakan/zona diantara kluster retakan.

Sementara itu, Staff pengajar di Prodi Geofisika – FMIPA Universitas Gajah Mada (UGM) M. Nukman mengatakan akibat ikuifaksi tersebut langkah yang bisa dilakukan dalam waktu dekat adalah untuk tidak tinggal didalam bangunan, apalagi kondisi bangunan sudah retak-retak dan berlokasi di sekitar area retakan yang tampak di permukaan.

Nukman menjelaskan, secara umum jika terjadi gempa besar dan dangkal maka akan muncul retakan-retakan di permukaan. Bisa jadi munculnya retakan-retakan ini adalah indikasi adanya patahan aktif. Namun menrutnya hal demikian perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikannya.

“Untuk langkah yang lebih jauh, kita menunggu instansi yg berwenang terkait rekomendasi zona pembangunan yang aman terhadap getaran gempa, sehingga kita bisa menata kembali daerah dengan resiko yang lebih kecil terhadap goncangan gempa,” kata dia.

“Hal tersebut butuh waktu yang tidak singkat. Semoga warga Lombok tetap tegar dan tabah dalam kondisi paska gempa ini. Aamiin.” Tutup Nukman.

 

Comments
Loading...